Selasa, 11 Desember 2018 : 06:58:50 WITA
Berita Terkini
Kedelai Impor, Perajin Tahu-Tempe di Balikpapan belum Terimbas Kenaikan Dolar

BALIKPAPAN - Bahan baku pembuatan tempe dan kedelai di Balikpapan, yakni kedelai sebagian besar masih impor dari luar negeri. Pergerakan melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar dikhawatirkan akan berimbas pada harga kedelai, dan ujung-ujungnya harga tahu-tempe akan naik.

Hingga Minggu (9/9) kemarin, nilai tukar rupiah terhada dolar mencapai Rp14.820. Meski demikian, melemahnya rupiah belum berdampak pada harga tahu dan tempe di pasaran, Balikpapan.

Tribun mencoba menyambangi Kawasan Industri Kecil Somber (KIKS), Km 3,5 Kelurahan Batu Ampar, Balikpapan Utara. Di KIKS terdapat puluhan perajin tahu dan tempe. Pengamatan Tribun, aktivitas pembuatan tahu dan tempe masih berlangsung meski hari Minggu.

Oktaviana (37), pemilik pabrik tahu-tempe di Somber menuturkan, harga tahu dan tempe sejauh ini belum naik, meskipun ada gejala nilai mata uang rupiah semakin melemah. "Belum naik ini. Harganya masih harga lama. Tidak ada kenaikan," ujarnya kepada Tribun.

Melemahnya mata uang rupiah baru saja terjadi, sehingga dampaknya belum terasa ke para usaha perajin tahu-tempe. Saat ini, harga bahan baku kedelai per kilogramnya masih sekitar Rp 5.000

Dikemukakan, bahan baku kedelai diimpor dari Amerika Serikat yang dikemas oleh PT FKS Multi Agro. Kata dia, harga belum ada kenaikan, masih berlaku harga awal 2018. "Masih harga Rp 5 ribu per bungkusnya. Tahu tempe belum ada kenaikan," ujar Oktaviana.

Oktaviana belum berani menaikkan harga tahu dan tempe, apalagi sampai mengurangi bobot tahu dan tempe produksinya. Dia menduga, mungkin saja distributor kedelai yang ada di Balikpapan masih pasokan-pasokan barang lama.

Seandainya pasokan kedelai merupakan pasokan barang baru pasti harganya sudah berubah. Kabar seperti di Pulau Jawa sudah ada yang naik, bahan baku kedelainya.

Pasokan hasil pabrik buatan tahu tempenya didistribusikan ke beberapa pasaran di Balikpapan seperti di Pasar Pandansari dan Pasar Butun. "Belum naik mungkin harga kacang kedelai juga belum naik di sini (Balikpapan)," ujarnya.

Dia berharap, jangan sampai harga kacang kedelai di Balikpapan ikut meroket naik gara-gara mata uang rupiah melemah. Mengingat asal kedelai di Balikpapan bersumber dari barang impor, diambil dari Amerika Serikat.

Jika nanti misalnya ikut kena dampak, mau tidak mau caranya efisiensi produksi. "Caranya akan saya buat tipis (tahu dan tempenya). Soalnya kalau saya naikin harganya nanti susah menjualnya," ungkapnya.

Oktavia sekali produksi bisa mencapai 2 karung kacang kedelai atau habiskan 100 Kg kacang kedelai yang dijadikan tahu dan tempe. Karyawannya menyerap dua pria bekerja setiap hari memproduksi olahan kedelai menjadi tahu dan tempe yang pemasarannya hanya di wilayah Balikpapan. (*)

Sumber: tribun kaltim

Sekilas Informasi